KH. Imam Suyuti adalah seorang Kiai yang memiliki kelahiran di Jombang Jawa timur. Tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1962, putra dari seorang Kiyai desa, yaitu H. Mujahiddin dan pasangannya yaitu Nyai Sundusiah.
Untuk pendidikannya KH. Imam Suyuti bermulai di Ponpes Wali Songo Cukir, Tebuireng, Jombang kepada KH. Adlan Aly kemudian pindah ke Ponpes Fathul Ulum kewageyan, Pare, Kediri kepada KH. Abdul Hanan Ma'sum, ( KH. Abdul Hanan ialah sepupu KH. Imam Suyuti ) disana beliau ngaji ilmu alat, ilmu Hikmah dan ngaji kitab klasik. Saat di Ponpes Fathul Ulum beliau juga di minta untuk mengajar di madrasah diniyyah tingkat Aliyah, kemudai beliau meminta izin kepada KH. Abdul Hanan untuk melanjutkan mondok ke ponpes Roudhotu Tahfidzul Qur'an perak Jombang kepada KH. Masduqi 'Abdurrahman untuk menghafalkan Al-Qur'an. Sebelum beliau mondok ke KH. Masduqi 'Abdurrahman beliau tabarukan ke makam Batuampar Madura atas saran Gus Hamid ( Guru sekaligus teman mondok KH. Imam Suyuti ) Tapi dengan sarat harus berjalan kaki, beliau berjalan kaki dari Ponpes Fathul Ulum kediri pada waktu itu bertepatan tanggal 25 Ramadhan, dengan izin Allah beliua sampai di makam Batuampar dalam waktu dua hari, sesampainya di makam Batuampar beliau menghatamkan Al-Qur'an sampai empat hantaman dalam sehari kemudian beliau pulang smapi di Jombang tanggal 30 Ramadhan. Di Ponpes Roudhotu Tahfizul Qur'an beliau hafal 10 juz, kemudian pindah ke Mbah Rouf Pikatan Blitar, Di sana beliau hafal 5 juz, kemudain pindah lagi ke Ponpes Tahfidzul Qur'an Ma'unah sari Kediri kepada KH. Abul Hamid Di sana beliau hafal 3 juz, setela itu beliau kembali lagi ke Ponpes Roudhotu Tahfidzul Qur'an untuk menghatamkan hafalan beliau. Setelah selsai menghafal Al-Qur'an KH. Imam Suyuti kembali ke Ponpes Fathul ULUM kewageyan disana belia bertemu dengan Abdul muttaqi seorang santri dari Gresik, Saat Abdul muttaqi pulang ke Gresik KH. Imam Suyuti dikenalkan dengan Nyai Nurul Muniroh.
Pada tahun 1991 KH. Imam Suyutu menikah dengan Nyai Nurul Muniroh binti H. Abdul Karim, H. Abudul Karim dia adalah seorang tokoh masarakat di desa Sukorejo, Bungah, Gresik. Setalah menikah KH. Imam Suyuti memutuskan untuk mondok lagi dengan membawa Nyai Nurul Muniroh, beliau kembali ke pondok Fathul Ulum kewageyan, Pare, Kediri.
Pada tahun 1993 sepulangnya KH. Imam Suyuti dari mondok H. Abdul Karim meminta KH. Imam Suyuti untuk membuat pondok dan membangunkan pondok di desa Sukorejo, Bungah, Gresik. Pondok tersebut di beri nama PP. Tahfidzul Qur'an Bahrul Ulum, nama pondok tersebut beri oleh seorang kiai karomah dari malang yaitu Gus Nur. Setelah berdirinya pondok tersebut atas izin Allah banyak para santri bukan hanya santri mukim tapi santri kalong juga ada.
KH. Imam Suyuti juga mendirikan jama'ah sholawat Nariyah. Sholawat Nariyah tersebut beliau dapatkan saat mondok di Ponpes Fathul Ulum kewageyan.
Barokallah
BalasHapus